Minggu, 14 Oktober 2012

PRINSIP - PRINSIP INVESTASI


1. KONSEP DASAR INVESTASI

Dalam perencanaan investasi mempunyai peran setrategis di semua lini . tidak ada satupun modul perencanaan keuangan yang terlepas dari perencanaan investasi . obyektivitas dari sebuah investasi yang umum kita pelajari adalah : berusaha memperoleh keuntungan sebesarmungkin dalam batas toleransri yang wajar dengan teap konsisten dan mempertimbangkan batas – batas penerimaan tingkat resiko.  Tujuan awal   investasi dalam perencanaan keuangan misalnya menabung dan akumulasi dana hari tua atau danan pendidikan .
Seorang investor sedikitnya memiliki satu dari ketiga objektivitas dasar berikut :
·         Pendapatan ( income )
·         Pertumbuhan modal ( capital growth )
·         Mempertahankan modal ( capital presenvation  )
Seorang investor yang menitik beratkan orientasinya pada  Pendapatan (  income ) akan sangat mempermemperhatikan tingkat income sekarang terhadap keseluruhan modalnya .
Sementara seorang investor dengan orientasi pertumbuhan capital secara umum akan menetapkan jangka waktu pencapaian objektivitas ( time horizon ) relative lebih panjang dan mengevaluasi pertumbuhan kapitalnya dari waktu – kewaktu  .
Investor yang lebih mempunyai objektivitas untuk mempertahankan kapitalnya akan mencari diveresifikasi portofolio yang lebih banyak dalam upaya pengurangan risiko semaksimal mungkin dengan tetap mempertahankan daya belinya  ( purchasing power )
2.      TIPE RISIKO INVESTASI
Resiko investasi secara garis besar dapat di definisikan sebagai suatu kemunglkinan di mana hasil investasi yang sebanarnya  ( actual return ) berbeda / tidak sama dengan yang di harapkan                                  ( expected return )
Tipe – tipe risiko investasi terdiri atas risiko sistimatik dan risiko non sistematik

Risiko sistematik  ( systimatic risk ) di kenal juga risiko yang tidak bisa didiversifikasi ( non deversiable  risk ) adalah merupakan risiko yang dipengaruhi oleh sejumlah factor seperti perubahan ekonomi, politik, sosiologi, perang, inflasi dan kejadian-kejadian internasional yang mana tingkat risiko tersebut tidak dapat dihilangkan dengan melakikan diversifikasi portofolio.
Risiko pasar (market risk) merupakan risiko yang disebabkan oleh factor independen (independent factor) dari setiap bentuk investasi. market risk adalah risiko yang terjadi jika pasar investasi menyimpang dari kebiasaannya atau siklusnya.
Factor yang mempengaruhi risiko pasar antara lain :
1.Kejadian politik
v  Perubahan ekonomi nasional
v  Regional atau global
v  Sentiment (mood) dari investor itu sendiri  .
sebagai contoh , jika pasar saham mengalami sentiment negative , para investor biasanya akan bereaksi menekan pasar dengan aksi jual saham yang memeaksa harga saham jatuh walupun secara keuangan , perusahaan – perusahaan ( emiten ) penerbit saham tersebut masih membikukan keuangan .
I.                    RISIKO SUKU BUNGA ( interest rate risk ) adalah risiko yang di sebaban oleh fluktuasi dari tingkat suku bunga  .
Adapun Faktor penyebab terjadinya fluktusi tingkat suku bunga antara lain :
v  Jumlah dana pinjaman dalam keseluruhan perekonomian sekaligus tingkat permintaan atas dana tersebut
v  Level dari siklus bisnis
v  Inflasi
v  Tingkat batasan suku bunga
v  Kebijakan pajak dan keungan
v  Likuiditas managemen dalam perekonomian .
Sebagai contoh , bila terjadi kenaikan tingkat suku bunga maka nilai dari saham dan surat hutang/ obligasi ( bonds ) akan turun , industry property juga kan terpukul bila terjadi kenaikan tingkat suku bungan terimbas oleh naiknya tariff hipotek ( mortgage rate ) 
II.                  RISIKO TARIF REINVESTSI  ( reinvestment rate risk ) : adalah Risiko terjadinya penurunan tingkat suku bunga di pasar ( market interest rates ) pada saat pembayaran ( jatuh Tempo ) dari sebuah investasi di terima .
III.               RISIKO DAYA BELI ( purchasing power risk ) di kenal juga sebagi risiko inflasi . inflasi menggerogoti kekayaan seseorang dan sekaligus memangkas kemampuan/ daya belinya . jika sebuah investasi memberikan tingkat pengembalian 5% tapi inflasi di pasar sebesar 4 % maka keuntungan bersih dan hasil pengembalian investasi tersebut hanyalah sebesar 1%
IV.                RISIKO MATA UANG( CURRENCY RISK ) adalah tinmgkat risiko yang harus di hadapi oleh seorang investor atas fluktuasi antara du atau lebih mata uang yang mempengaruhi tingkat pengembalian investasinya.
V.                  RISIKO NON SISTIMATIK ( unsystematic risk ) di sebut juga sebagai risiko yang bisa didiversifikasi ( diversifiable risk ) , menunjukkan porsi dari risiko investasi yang dapat di kurangi melalui diveresifikasi , factor pembentuk jenis risiko ini antara lain :
¨       Kapasitas management
¨       Mogok tenaga kerja
¨       Kecenderungan konsumen ( consumer preferences )
VI.                RISIKO BISNIS ( bussines risk ) adalah tingkat risiko yang di asosiasikan dengan kemampuan sebuah perusahaan                untuk beroperasi secara menguntungkan.
Persusahaandengan pemasukan laba yang stabil , tingkat persaingan  yang wajar , penjualan yang sehat dan tingkat pengeluaran yang sesuai akan mempunyai risiko bisnis yang rendah .
VII.            RISIKO KEUANGAN ( financial risk ) berhungan erat dengan laporan neraca keuangan perusahaan . senuah perbandingan sederhana misalnya dapat di lakukan atas tingkat hutang perusahaan terhadap keseluruhan asset perusahaan . perusahaan dengan beban hutang yang berat akan mempunyai tingklat risiko yang lebih besar
VIII.          RISIKO CIDERA JANJI ( default risk ) dapat merupakan imbas langsung dari risiko keuangan.
default risk adalah ketidakmampuan sebuah perusahaan untuk memenuhi kewajibanya ( pembayaran hutang ) pada saat kewajiban – kewajiban  tersebut jatuh tempoh .
IX.                RISIKO LIKUIDITAS ( LIQUIDITY RISK ) berhubungan dengan ketidakpastian dalam merubah investasi yang ada untuk menjadi kas dalam periode yang relative pendek untuk suatu waktu  yang bisa di perkirakan , pada harga yang relativ tetap

Sebagi contoh sebuah saham bisa di katakana liquid  bila  seorang investor dapat membeli maupun mejual saham tersebut pada waktu kapan saja ia suka dan pasar merespon dengan selalu tersedianya investor lain yang siap untuk menjual atau menampung  saham tersebut.

3.      LIKUIDUTAS ( LIQUIDITY ) DAN DAYA JUAL ( MARKETABILITY )
Sebuah asset bisa saja tidak likuikd tapi memiliki kemampuan  jual yang tinggi apa bedanya ? Daya jual ( marketability )  mengacu ke[pada kemampuan untuk menjual sebuah asset dengan cepat dalam suatu pasar yang telah siap tapi tidak ada garansi bahwa asset tersebut  akan bisa di jual pada harga jual yang wajar ( selling  price ) . asset likuid ( liquid assets ) bahkan bisa tidak mempunyai pasar ( misalnya , kita tidak bisa menjual sebuah cek atau sebuah rekening tabungan – saving account ) .
Table berikut menunjukkan perbedaan antara sejumlah bentuk investasi dengan tingkat likuiditas ( liquidity ) dan pemasaran ( marketability ) masing – masing berikut jenis risiko terkait .
Bentuk investasi
( investment vehicle )
Likuiditas
( liquidity )
Kemampuan jual
( marketability )
Tipe dari risiko
(Type of risk )
Saving account
High
N/A
Purchasing power / Reinvestment rate
Busuness partner-ships
Low
Low
Marjet/business/financial default
Warrants
Moderate
High
Market /business
Future contracts
Low
High
Market /business
Fixed deposits
Moderate
N/A
Purchasing power / Reinvestment rate
Treasury notes and bonds
Moderate
High
Purchasing power / interest rate
Blue chips common stocks
Moderate
High
Market /business
High-grade corporate bonds
Moderate
High
Purchasing power / interest rate
Other common stocks
Low
High
Business/market/financial
Other corporate bonds
Low
Moderate/ high
Business/financial/interes rate ./ default
Put and call options
low
High
Market / business
Real estate investment
Low
Low
Market/business/ financial
Tangible ( hard ) asset
Low
Low
market





4.     Factor factor yang mempengaruhi tingkat toleransio risiko investor
Toleransi  seorang individu terhadap tingkat risiko yang bisa di terimanya di tentukan oleh banyak factor .
Faktor – faktor  ini akan terus mengalami perubahan waktu ke waktu .
factor – factor tersebut antara lain adalah
·         TUJUAN YANG SPESIFIK ( spresific goalt  ) seseorang mempunyai toleransi risiko yang relative lebih rendah untuk uang yang dia simpan untuk pembiayaan cicilan rumah ketimbang uang yang memang sengaja di akumulasi untuk kepentingan tabungan ( excess money )
·         JANGKA WAKTU ( Time  frame ) investasi untuk dana pensiun yang masih menyisakan waktu 40 tahun akumulasi dapat saja menerima tingkat toleransi risiko yang tinggi :
·         PENGETAHUAN TENTANG IINVESTASI ( Investment knowledge ) ; seorang individu yang cukup memiliki pengalaman , latar belakang dan pengetahuan seputar lingkup investasi akan memberikan tingkat  toleransi yang relatif tinggi untuk dirinya sendiri
2.       KEPRIBADIAN ( Personality ) ; tinmgkat penerimaan risiko tergantung pada ke[ribadian individu bersangkutan . seorang yang memiliki temperamen agresif cenderung lebih bisa menerima tingkat risiko yang lebih besar ketimbang orang yang lebih pasif
·         KONSISI PASAR TERKINI ( current market conditions ) ; pasar saham yang sementara naik ( bullish ) akan menstimulus psikologi investor untuk mau menerima tingkat risiko yang lebih besar bahkan kepada seorang isvestor yang konservatif sekalipun
·         KONDISI KEUANGAN TERKINI ( current financial conditions ) seoarng dengan kondisi keuangan yang kuarang menguntungkan akan memberikan tingkat toleransi risiko yang lebih kecil untuk dirinya ketimbang seseorang yang mempunyai kelebihan dana dan tingkat pendapatan besar 
·         FAKTOR UMUR (age ) seseorang cenderung menerima tingkat risiko semakin kecil dengan bertambahnya usia . Meningkatnya usia seseorang  membuat ia hanya mau menerima bentuk investasi yang aman
·         PENDAPAT ATAS INVESTASI ( Investment advise ) ;  Seseorang mempunyai kecenderungan untuk merubah kembali tingkat penerimaan risiko atas sebuah investasi berdasarkan saran dari sumber yang di percayainya

5.     Tipe dan karakteristik dari hasil Investasi
Hasil investasi ( investment return ) bisa berbentuk Peningkatan atas Modal ( capital appreciation ) , Pendapatan ( Income )  atau kombinasi keduanya
1.      Peningkatan atas modal  ( Capital appreciation )
Seseoarng investor yang menitik beratkan pada pertumabuhan investasi tidak akan terlalu tertarik untuk menerima pendapatan berjalan  ( current income ) .
Ia kan lebih menginginkan pertumbuhan yang lebih besar atas investasi awal dalam satu kerangka pweriode waktu tertentu, kita mengenal tiga kerangka waktu investasi;
·         Jangka pendek ( short term )  kurang dari satu sampai tiga  tahun
·         Jangka menengah  ( intermediate term ) – antara tiga sampai tujuh tahun
·         Jangka panjang ( long term ) – lebih dari tujuh tahun
-          Investor yang memiliki kerangka waktu hasil investasi jangka pendek biasanya akan lebih agresif . investor dengan karakter seperti ini akan bisa menerima tingkat risiko lebih besar atau sesuatu yang brerbau spekulasi .
-          Mereka yang memiliki jangka waktu menengah biasanya untuk pengembalian investasinya akan bersifat antar kurang agresif hingga moderat .
-          Sementara individu yang memilih untuk menghindari risiko ( risk averse ) kemungkinan besar tidak akan berinvestasi dengan tujuan apresiasi capital atau meresa cukup dengan berinvestasi dalam porsi yang relatif kecil untuk jangka waktu lama
2.      PENDAPATAN ( INCOME )
Sementara sejumlah investor lebih menitik - beratkan pada apresiasi atau pertumbuhan modal , sejumlahj investor yang lain lebih memilih pendapatan barjalan ( current income ) . Penadapatan ( income ) biasanya di distribusikan  dalam tiga bentuk :  deviden , bunga ( Interest ) dan pembayaran sewa ( Rent payment )
-          DEVIDEN adalah bentuk pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang sahamnya. Deviden  dapat di bayar dalam bentuk : kas , saham tambahan tambahan , kupon ( scrip ) atau dalm bentuk barang kepemilikan atau produk perusahaan ( tapi ini sangat jarang )
-          BUNGA ( interest ) sama pentingnya dengan deviden tapi berasal dari sumber instrument investasi yang berbeda .  
Bunga adalah biaya atas pinjaman uang ( cost off boroowing money ),yang dinyatakan dalam bentuk kurs / tarif ( rate ) tertentu untuk satu periode waktu tertentu . pada saat seseorang menyimpan uang dalam bentuk deposito berjangka , dia “ mengijinkan “pihak bank untuk meminjamkan uang tersebut kepada pihak lain dan sebgai gantinya  dia menerima tingkat suku bunga  tertentu sebagai biaya peminjaman uang tersebut
-          SEWA ( rent ) : pendapatan yang bersala dari hasil pembayaran  sewa atas harta kepemilikan seseorang  .

PENINGKATAN MODAL DAN PENDAPATAN
Sebagian besar investor menginginkan investasinya mempunyai kedua kreteria , peningkatan modal dan pendapatan . Pasar menawarkan  begitu banyak instrument investasi yang mampu memberikan peningkatan modal dan pendapatan pada saat yang besamaan . Perusahaan –perusahaan yang sehat bisa member para pemegang sahamnya yang memenuhi kedua kreteria tersebut  dengan membagikan deviden dan sekaligus  mempunyai prospek pertumbuhan modal yang berkelanjutan .

6.      KONSEP ALOKASI ASET  ( ASSET ALLOCATION ) DAN DIVERSIVIKASI
Dalam pendekatan alokasi aset kita akan membahas kedua metode
-          SETRATEGI ALOKASI ASET  ( STRATEGIC ASSET ALLOCATION )
Yaitu metode alokasi yang berfokus pada jangkauan objektifitas yang panjang untuk menetapkan perpaduan berbagai macam jenis aset.
Sebagai contoh seorang investor memilih alokasi setrategis dengan komposisi 60%  saham dan 40% surat hutang. Sejalan dengan fluktuasi pasar, posisi investasi saham mengalami pertumbuhan ke level 70% . pada titik ini . portofolio ini dapat di seimbangkan kembali dengan menjual dengan 10% saham yang ada dan meng alokasikan dana hasil penjualan tersebutn kedalam bentuk surat hutang.

-          ALOKASI ASET TAKTIS ( TACTICAL ASSET ALLOCATION )
Yaitu metode pendekatan yang menggunakan perkiraan arah pergerakan pasar untuk merubah komposisi aset dalam portofolio.
Alokasi aset taktis menggunakan teknik  seperti waktu pasar ( market Timing) dan rotasi sector ( sector rotation ).market timing melibatkan pemindahan antara dua bentuk aset berdasarkan perkiraan pergerakan pasar. Sementara untuk sector rotation di gunakan untuk mengganti posisi portofolio dari satu sektor industry ke sektor industry  lainya .
Dalam pembentukan sebuah pirtofolio, kita perlu memperhatikan bentuk – bentuk korelasi ( hubungan ) antara aset –aset pembentuk porto folio tersebut .


Adapun jenis –jenis bentuk korelasi yaitu
-          Korelasi positif ( positively correlated ) dimana dua aset atau investasi memberikan arah pergerakan harga /tingkat pengembalian ( return) yang sama .
-          Korelasi negatif. ( negatively correlated ) beraku pada dua aset atau investasi yang memberikan tingkat pengembalian saling bertolak belakang satu sama lain.

Untuk mengurangi tingkat risiko sebuah portofolio dapat dilakukan dengan mengkombinasikan atau menambahkan kedalam portofolio tersebut aset – aset yang memiliki korelasi negatif satu sama lain atau aset aset yang memiliki tingkat korelasi positif yang lemah .Tehnik ini di sebut diversifikasi
KOSEP DASAR DARI BATASAN EFISIEN  ( EFFICIENT FRONTIER ) :adalah mengkombinasikan komposisi aset – aset pembentuk sebuah portofolio sehingga total pengembalian ( return ) portofolio bisa di capai secara maksimun dengan batas toleransi risiko yang seimbang .
Contoh komposisi aset dalam portofolio dihubungkan dengan tingkat toleransi risiko yang ditanggung adalah sebagai berikut :
Toleransi rendah terhadap risiko (low risk tolerance)
-          20% pokok tetap dan/ aset setara kas
-          45% instrument berpendapatan tetap kualitas tinggi (obligasi pemerintah jangka pendek atau menengah)
-          5% investasi berpendapatan tetap internasional
-          25% saham kategori bertumbuh dan pendapatan
-          5% saham internasional kategori bertumbuh dan pendapatan
Toleransi menengah terhadap risiko ( moderate risk tolerance )
-          15% pokok tetap dan/ aset setara kas
-          35% instrument berpendapatan tetap kwalitas tinggi dan instrument investasi dengan hasil tinggi
-          5% aset internasional berpendapatan tetap
-          15% saham kategori bertumbuh dan berpendapatan ( income stoks )
-          15% saham bertumbuh
-          10% saham internasional
Toleransi  tinggi terhadap risiko( high risk tolerance )
-          10% intrumen berpendapatan tetap dan/atau aset setara kas
-          20% instrument berpendapatn tetap
-          10% instrument internasional berpendapatan tetap
-          10% instrument kategori bertumbuh dan pertumbuhan pendapatan ( income geowth)
-          20% saham bertumbuh
-          10% saham dengan pertumbuhan agresif
-          15% saham internasional
-          5% aset berwujud tangible assets)

7.      METODE ANALISA INVESTASI
Dengan menganalisa sebuah investasi dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan .secara garis besar pendekatan –pendekatan itu dapat disimpulkan dalam dua kelompok besar  yaitu ; pendekatan analisa teknis dan analisa fundamenatal
ANALISA TEKNIS
Mereka yang menjadi pengikut analisa teknis meyakini bahwa harga – harga yang di bentuk dipasar adalah merupakan cerminan dari gejolak emosi dan psikologis dari pemain pasar modal itu sendiri . gejolak gejolak psikologis ini ( bullish atau bearish).tercermin dalam grafik – grafik harga saham .
Dengan kata lain , menganalisa pergerkan harga –harga  (saham ,misalnya ) melalui grafik yang di perkirakan bisa membaca arah harga – harga tersebut  diwaktu – waktu mendatang dan sekaligus menangkap posisi psikologis para pemain pasar modal               (  bullish atau bearish )
Mereka yang menggunakan analisa menggunakan analisa teknis akan menggabungkan sejumlah factor biaya pendukung lainya yang bisa di temui di pasar misalnya;
·         harga pergerakan index atau benchmark,
·          volume transaksi
·         Indicator-indikator yang berdasarkan perhitungan statistic
·         Pola –pola pergerkan harga yang terbentuk di masa lalu
Setiap orang bisa menggunakan teknik analisa yang sama atau menggunakan data historis saham yang sama tetapi yang membedakan hasil keputusan investasi adalah peranan psikologis dan interpretasi individu atas data atau grafik yang sedang di analisa
ANALISA FUNDAMENTAL
Analisa ini menyertakan evaluasi yang mendalam terhadap misalnya
-          Tingkat suku bunga
-          Produksi nasional bruto
-          Inflasi
-          Tingkat pengangguran
-          Cadangan barang di pasar
-          Kondisi ekonomi makro dan mikro
-          Laporan keuangan perusahaan
-          Sejumlah aspek lainya di luar analisa  teknis
Dari sudut pandang yang lebih kecil analisa fundamental akan mengevalusai posisi laporan keuangan dari perusahaan bersangkutan untuk memprediksikan pergerakan harga saham di kemudiian hari atau prospek keuntungan yang bakal di raih oleh perusahaan emiten
Dua pendekatan dari analisa fundamental adalah analisa atas - bawah ( top-down inveting ) dan analisa bawah atas ( buttom –up investing )
I.                    ANALISA FUNDAMENTAL ATAS – BAWAH ( TOP-DOWN )
Dalam metode atas bawah , investor berusaha untuk mengidentifikasi kecenderungan    ( trend) ekonomi secara menyeluruh dan kemudian memilih jenis  industry dan perusahaan – perusahaan yang diperkirakan bakal mengikuti trend umum tersebut.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas, mereka yang menganut sistim analisa atas bawah akan menggunakan tiga hal sebagai dasar analisanya;

1.       Kondisi ekonomi, yang terbagi lagi atas tiga area besar
a.       Siklus usaha, melihat siklus posisi usaha dari perusahaan bersangkutan, apakah perusahaan tersebut sedang dalam tahap ekspansi atau perbaikan (recovery), posisi puncak, kontraksi atau resesi atau sedang terpuruk.
b.       Kebijakan keuangan pemerintah, bagaimana tindakan pemerintah dalam pengambilan kebijakan-kebijakan moneter untuk menanggulangi keadaan resesi Negara, memerangi laju tingkat inflasi, dll.
c.       Kebijakan fiskal, mengacu pada kondisi apakah pemerintah akan meningkatkan atau mengurangi tingkat pengeluaran Negara, apakah akan terjadi peningkatan atau pengurangan anggaran, dan apakah terjadi perubahan dalam tingkat pengangguran.

2.       Kondisi industri, untuk menentukan jenis industry mana yang sedang berjalan bagus sepanjang  kondisi ekonomi yang ada sekarang .

Kondisi perusahaan , dimana tiga hal yang harus menjadi perhatian utama adalah :
a.       Posisi komtetitif perusahaan
b.       Prospek untuk pertumbuhan dan kestabilan management maupun tingkat penghasilan laba bersih
c.       Posisi keuangan perusahaan sekarang dengan mengevaluasi laporan – laporan keuangan dan melakukan perbangan intern maupun perbandingan dengan  perusahaan pesaing.
II.                  ANALISA FUNDAMENTAL BAWAH – ATAS ( BUTTOM-UP INVESTING )          
Analisa bawah – atas ( buttom –up investing ) lebih kearah pendekatan mikro, investor yang menggunakan metode ini akan memburu saham – saham perusahaan – perusahaan yang sedang mengalami tekanan jual di pasar modal dan terutama perusahaan –perusahaan yang harga sahamnya jauh di bawah harga wajar.

8.      NILAI INSTRINSIC ( INSTRINSIC VELUE )
Nilai instrinsik adalah perkiraan nilai dasar dari satu sekuritas ( instrumen investasi )
Sebuah saham dikatan penilaian rendah ( undervalue ) apabila nilai intrinsic dari saham tersebut lebih besar dari nilai atau harga pasar saham itu saat ini . dalam pandangan investor yang menggunakan analisa fundamental , kondisi saham seperti ini memberikan prospek yang bagus untuk di beli dan di tahan sampai harga pasar mendekati harga wajar ataunharga dasar saham tersebut ( intrinsic value ).

Sebaliknya apabila sebuah saham memilki ninlai intrinsik yang lebih kecil dari harga yang di berikan pasar kepada saham tersebut , kondisi demikian disebut sebagi kondisi penilaian berlebih ( overvalue ) dan saham kondisi seperti ini cenderung akan mengalami tekanan jual dalam waktu dekat dimana pasar akan berusaha membawa harga pasar yang ada sekarang untuk mendekati harga wajar dari saham itu.

***
                                                                                                                                         





Tidak ada komentar:

Posting Komentar