1. KONSEP DASAR INVESTASI
Dalam
perencanaan investasi mempunyai peran setrategis di semua lini . tidak ada
satupun modul perencanaan keuangan yang terlepas dari perencanaan investasi . obyektivitas
dari sebuah investasi yang umum kita pelajari adalah : berusaha memperoleh
keuntungan sebesarmungkin dalam batas toleransri yang wajar dengan teap
konsisten dan mempertimbangkan batas – batas penerimaan tingkat resiko. Tujuan awal
investasi dalam perencanaan keuangan misalnya menabung dan akumulasi
dana hari tua atau danan pendidikan .
Seorang
investor sedikitnya memiliki satu dari ketiga objektivitas dasar berikut :
·
Pendapatan ( income )
·
Pertumbuhan modal ( capital growth )
·
Mempertahankan modal ( capital presenvation )
Seorang
investor yang menitik beratkan orientasinya pada Pendapatan (
income ) akan sangat mempermemperhatikan tingkat income
sekarang terhadap keseluruhan modalnya .
Sementara
seorang investor dengan orientasi pertumbuhan capital secara umum akan
menetapkan jangka waktu pencapaian objektivitas ( time horizon ) relative lebih panjang dan mengevaluasi pertumbuhan
kapitalnya dari waktu – kewaktu .
Investor yang
lebih mempunyai objektivitas untuk mempertahankan kapitalnya akan mencari
diveresifikasi portofolio yang lebih banyak dalam upaya pengurangan risiko
semaksimal mungkin dengan tetap mempertahankan daya belinya ( purchasing
power )
2. TIPE RISIKO
INVESTASI
Resiko investasi secara garis besar dapat di
definisikan sebagai suatu kemunglkinan di mana hasil investasi yang
sebanarnya ( actual return ) berbeda / tidak sama dengan yang di harapkan ( expected
return )
Tipe – tipe
risiko investasi terdiri
atas risiko sistimatik dan risiko non sistematik
Risiko
sistematik
( systimatic risk ) di kenal
juga risiko yang tidak bisa didiversifikasi
( non deversiable risk ) adalah merupakan risiko yang
dipengaruhi oleh sejumlah factor seperti perubahan ekonomi, politik, sosiologi,
perang, inflasi dan kejadian-kejadian internasional yang mana tingkat risiko
tersebut tidak dapat dihilangkan dengan melakikan diversifikasi portofolio.
Risiko pasar (market risk) merupakan risiko yang disebabkan oleh factor
independen (independent factor) dari
setiap bentuk investasi. market risk adalah
risiko yang terjadi jika pasar investasi menyimpang dari kebiasaannya atau
siklusnya.
Factor yang mempengaruhi risiko pasar antara
lain :
1.Kejadian politik
v
Perubahan
ekonomi nasional
v
Regional
atau global
v
Sentiment (mood)
dari investor itu sendiri .
sebagai contoh , jika pasar saham mengalami
sentiment negative , para investor biasanya akan bereaksi menekan pasar dengan
aksi jual saham yang memeaksa harga saham jatuh walupun secara keuangan ,
perusahaan – perusahaan ( emiten )
penerbit saham tersebut masih membikukan keuangan .
I.
RISIKO SUKU BUNGA ( interest
rate risk ) adalah risiko yang di sebaban oleh fluktuasi dari tingkat suku
bunga .
Adapun
Faktor penyebab terjadinya fluktusi tingkat suku bunga antara lain :
v
Jumlah dana pinjaman dalam keseluruhan
perekonomian sekaligus tingkat permintaan atas dana tersebut
v
Level dari siklus bisnis
v
Inflasi
v
Tingkat batasan suku bunga
v
Kebijakan pajak dan keungan
v
Likuiditas managemen dalam perekonomian .
Sebagai contoh , bila terjadi kenaikan
tingkat suku bunga maka nilai dari saham dan surat hutang/ obligasi ( bonds )
akan turun , industry property juga kan terpukul bila terjadi kenaikan tingkat
suku bungan terimbas oleh naiknya tariff hipotek ( mortgage rate )
II.
RISIKO TARIF REINVESTSI ( reinvestment rate risk ) : adalah Risiko terjadinya penurunan
tingkat suku bunga di pasar ( market interest rates ) pada saat pembayaran (
jatuh Tempo ) dari sebuah investasi di terima .
III.
RISIKO DAYA BELI ( purchasing power risk ) di kenal
juga sebagi risiko inflasi . inflasi
menggerogoti kekayaan seseorang dan sekaligus memangkas kemampuan/ daya belinya
. jika sebuah investasi memberikan tingkat pengembalian 5% tapi inflasi di
pasar sebesar 4 % maka keuntungan bersih dan hasil pengembalian investasi
tersebut hanyalah sebesar 1%
IV.
RISIKO MATA UANG( CURRENCY
RISK ) adalah
tinmgkat risiko yang harus di hadapi oleh seorang investor atas fluktuasi
antara du atau lebih mata uang yang mempengaruhi tingkat pengembalian
investasinya.
V.
RISIKO NON SISTIMATIK ( unsystematic
risk ) di sebut juga sebagai risiko yang
bisa didiversifikasi ( diversifiable risk ) , menunjukkan porsi dari risiko
investasi yang dapat di kurangi melalui diveresifikasi , factor pembentuk jenis
risiko ini antara lain :
¨
Kapasitas
management
¨
Mogok tenaga
kerja
¨
Kecenderungan
konsumen ( consumer preferences )
VI.
RISIKO BISNIS ( bussines
risk ) adalah tingkat risiko yang di
asosiasikan dengan kemampuan sebuah perusahaan untuk
beroperasi secara menguntungkan.
Persusahaandengan
pemasukan laba yang stabil , tingkat persaingan yang wajar , penjualan yang sehat dan tingkat
pengeluaran yang sesuai akan mempunyai risiko bisnis yang rendah .
VII.
RISIKO KEUANGAN ( financial
risk ) berhungan
erat dengan laporan neraca keuangan perusahaan . senuah perbandingan sederhana
misalnya dapat di lakukan atas tingkat hutang perusahaan terhadap keseluruhan
asset perusahaan . perusahaan dengan beban hutang yang berat akan mempunyai
tingklat risiko yang lebih besar
VIII.
RISIKO CIDERA JANJI ( default risk
) dapat merupakan imbas langsung
dari risiko keuangan.
default risk adalah ketidakmampuan sebuah perusahaan untuk
memenuhi kewajibanya ( pembayaran hutang ) pada saat kewajiban – kewajiban tersebut jatuh tempoh .
IX.
RISIKO LIKUIDITAS ( LIQUIDITY RISK ) berhubungan dengan
ketidakpastian dalam merubah investasi yang ada untuk menjadi kas dalam periode
yang relative pendek untuk suatu waktu yang
bisa di perkirakan , pada harga yang relativ tetap
Sebagi
contoh sebuah saham bisa di katakana liquid
bila seorang investor
dapat membeli maupun mejual saham tersebut pada waktu kapan saja ia suka dan
pasar merespon dengan selalu tersedianya investor lain yang siap untuk menjual
atau menampung saham tersebut.
3. LIKUIDUTAS (
LIQUIDITY ) DAN DAYA JUAL ( MARKETABILITY )
Sebuah asset bisa saja tidak likuikd tapi
memiliki kemampuan jual yang tinggi apa
bedanya ? Daya jual ( marketability ) mengacu ke[pada kemampuan untuk menjual
sebuah asset dengan cepat dalam suatu pasar yang telah siap tapi tidak ada
garansi bahwa asset tersebut akan bisa
di jual pada harga jual yang wajar ( selling
price ) . asset likuid ( liquid assets ) bahkan bisa tidak mempunyai
pasar ( misalnya , kita tidak bisa menjual sebuah cek atau sebuah rekening
tabungan – saving account ) .
Table berikut menunjukkan perbedaan antara
sejumlah bentuk investasi dengan tingkat likuiditas ( liquidity ) dan pemasaran
( marketability ) masing – masing berikut jenis risiko terkait .
|
Bentuk investasi
( investment vehicle )
|
Likuiditas
( liquidity )
|
Kemampuan jual
( marketability )
|
Tipe dari risiko
(Type of risk )
|
|
Saving account
|
High
|
N/A
|
Purchasing power / Reinvestment rate
|
|
Busuness partner-ships
|
Low
|
Low
|
Marjet/business/financial default
|
|
Warrants
|
Moderate
|
High
|
Market /business
|
|
Future contracts
|
Low
|
High
|
Market /business
|
|
Fixed deposits
|
Moderate
|
N/A
|
Purchasing power / Reinvestment rate
|
|
Treasury notes and bonds
|
Moderate
|
High
|
Purchasing power / interest rate
|
|
Blue chips common stocks
|
Moderate
|
High
|
Market /business
|
|
High-grade corporate bonds
|
Moderate
|
High
|
Purchasing power / interest rate
|
|
Other common stocks
|
Low
|
High
|
Business/market/financial
|
|
Other corporate bonds
|
Low
|
Moderate/ high
|
Business/financial/interes rate ./ default
|
|
Put and call options
|
low
|
High
|
Market / business
|
|
Real estate investment
|
Low
|
Low
|
Market/business/ financial
|
|
Tangible ( hard ) asset
|
Low
|
Low
|
market
|
|
|
|
|
|
4.
Factor factor yang mempengaruhi
tingkat toleransio risiko investor
Toleransi seorang individu terhadap tingkat risiko yang
bisa di terimanya di tentukan oleh banyak factor .
Faktor – faktor ini akan terus mengalami perubahan waktu ke
waktu .
factor –
factor tersebut antara lain adalah
·
TUJUAN YANG SPESIFIK ( spresific goalt ) seseorang mempunyai toleransi risiko yang
relative lebih rendah untuk uang yang dia simpan untuk pembiayaan cicilan rumah
ketimbang uang yang memang sengaja di akumulasi untuk kepentingan tabungan ( excess money )
·
JANGKA WAKTU ( Time frame ) investasi untuk dana pensiun yang masih
menyisakan waktu 40 tahun akumulasi dapat saja menerima tingkat toleransi
risiko yang tinggi :
·
PENGETAHUAN TENTANG IINVESTASI ( Investment knowledge ) ; seorang individu yang cukup memiliki pengalaman
, latar belakang dan pengetahuan seputar lingkup investasi akan memberikan
tingkat toleransi yang relatif tinggi
untuk dirinya sendiri
2.
KEPRIBADIAN ( Personality ) ; tinmgkat penerimaan risiko tergantung pada
ke[ribadian individu bersangkutan . seorang yang memiliki temperamen agresif
cenderung lebih bisa menerima tingkat risiko yang lebih besar ketimbang orang
yang lebih pasif
·
KONSISI PASAR TERKINI ( current market conditions
) ; pasar saham yang sementara naik
(
bullish ) akan menstimulus psikologi investor untuk mau menerima
tingkat risiko yang lebih besar bahkan kepada seorang isvestor yang konservatif
sekalipun
·
KONDISI KEUANGAN TERKINI ( current financial
conditions ) seoarng dengan kondisi keuangan
yang kuarang menguntungkan akan memberikan tingkat toleransi risiko yang lebih
kecil untuk dirinya ketimbang seseorang yang mempunyai kelebihan dana dan
tingkat pendapatan besar
·
FAKTOR UMUR (age ) seseorang
cenderung menerima tingkat risiko semakin kecil dengan bertambahnya usia .
Meningkatnya usia seseorang membuat ia
hanya mau menerima bentuk investasi yang aman
·
PENDAPAT ATAS INVESTASI ( Investment advise )
; Seseorang
mempunyai kecenderungan untuk merubah kembali tingkat penerimaan risiko atas
sebuah investasi berdasarkan saran dari sumber yang di percayainya
5.
Tipe dan karakteristik dari hasil
Investasi
Hasil investasi ( investment return ) bisa berbentuk Peningkatan atas Modal (
capital appreciation ) , Pendapatan ( Income ) atau kombinasi keduanya
1. Peningkatan
atas modal ( Capital appreciation )
Seseoarng
investor yang menitik beratkan pada pertumabuhan investasi tidak akan terlalu
tertarik untuk menerima pendapatan berjalan
( current income ) .
Ia kan lebih
menginginkan pertumbuhan yang lebih besar atas investasi awal dalam satu
kerangka pweriode waktu tertentu, kita mengenal tiga kerangka waktu investasi;
·
Jangka pendek (
short term ) kurang dari satu sampai
tiga tahun
·
Jangka
menengah ( intermediate term ) – antara tiga sampai tujuh tahun
·
Jangka
panjang ( long term ) – lebih dari
tujuh tahun
-
Investor yang memiliki kerangka waktu hasil
investasi jangka pendek biasanya
akan lebih agresif . investor dengan karakter seperti ini akan bisa menerima
tingkat risiko lebih besar atau sesuatu yang brerbau spekulasi .
-
Mereka yang memiliki jangka waktu menengah biasanya untuk pengembalian investasinya akan
bersifat antar kurang agresif hingga moderat .
-
Sementara individu yang memilih untuk
menghindari risiko ( risk averse ) kemungkinan besar tidak akan
berinvestasi dengan tujuan apresiasi capital atau meresa cukup dengan
berinvestasi dalam porsi yang relatif kecil untuk jangka waktu lama
2. PENDAPATAN ( INCOME )
Sementara
sejumlah investor lebih menitik - beratkan pada apresiasi atau pertumbuhan
modal , sejumlahj investor yang lain lebih memilih pendapatan barjalan (
current income ) . Penadapatan ( income ) biasanya di distribusikan dalam tiga bentuk :
deviden , bunga ( Interest ) dan pembayaran sewa ( Rent payment )
-
DEVIDEN
adalah bentuk pembagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang sahamnya. Deviden dapat di bayar dalam bentuk : kas , saham tambahan tambahan , kupon ( scrip ) atau dalm bentuk
barang kepemilikan atau produk perusahaan ( tapi ini sangat jarang )
-
BUNGA ( interest ) sama pentingnya
dengan deviden tapi berasal dari sumber instrument investasi yang berbeda .
Bunga adalah
biaya atas pinjaman uang ( cost
off boroowing money ),yang
dinyatakan dalam bentuk kurs / tarif ( rate ) tertentu untuk satu periode waktu
tertentu . pada saat seseorang menyimpan uang dalam bentuk deposito berjangka ,
dia “ mengijinkan “pihak bank untuk meminjamkan uang tersebut kepada pihak lain
dan sebgai gantinya dia menerima tingkat
suku bunga tertentu sebagai biaya
peminjaman uang tersebut
-
SEWA ( rent ) : pendapatan yang bersala dari hasil pembayaran
sewa atas harta kepemilikan
seseorang .
PENINGKATAN MODAL DAN PENDAPATAN
Sebagian
besar investor menginginkan investasinya mempunyai kedua kreteria , peningkatan
modal dan pendapatan . Pasar menawarkan
begitu banyak instrument investasi yang mampu memberikan peningkatan
modal dan pendapatan pada saat yang besamaan . Perusahaan –perusahaan yang
sehat bisa member para pemegang sahamnya yang memenuhi kedua kreteria
tersebut dengan membagikan deviden dan
sekaligus mempunyai prospek pertumbuhan
modal yang berkelanjutan .
6.
KONSEP ALOKASI ASET ( ASSET ALLOCATION ) DAN DIVERSIVIKASI
Dalam pendekatan alokasi aset kita akan
membahas kedua metode
-
SETRATEGI ALOKASI ASET ( STRATEGIC ASSET ALLOCATION )
Yaitu metode
alokasi yang berfokus pada jangkauan objektifitas yang panjang untuk menetapkan
perpaduan berbagai macam jenis aset.
Sebagai
contoh seorang investor memilih alokasi setrategis dengan komposisi 60% saham dan 40% surat hutang. Sejalan dengan
fluktuasi pasar, posisi investasi saham mengalami pertumbuhan ke level 70% .
pada titik ini . portofolio ini dapat di seimbangkan kembali dengan menjual
dengan 10% saham yang ada dan meng alokasikan dana hasil penjualan tersebutn
kedalam bentuk surat hutang.
-
ALOKASI ASET TAKTIS ( TACTICAL ASSET
ALLOCATION )
Yaitu metode
pendekatan yang menggunakan perkiraan arah pergerakan pasar untuk merubah
komposisi aset dalam portofolio.
Alokasi aset
taktis menggunakan teknik seperti waktu
pasar ( market Timing) dan rotasi sector ( sector rotation ).market timing
melibatkan pemindahan antara dua bentuk aset berdasarkan perkiraan pergerakan
pasar. Sementara untuk sector rotation di gunakan untuk mengganti posisi
portofolio dari satu sektor industry ke sektor industry lainya .
Dalam
pembentukan sebuah pirtofolio, kita perlu memperhatikan bentuk – bentuk
korelasi ( hubungan ) antara aset –aset pembentuk porto folio tersebut .
Adapun jenis
–jenis bentuk korelasi yaitu
-
Korelasi positif ( positively
correlated ) dimana dua aset atau investasi
memberikan arah pergerakan harga /tingkat pengembalian ( return) yang sama .
-
Korelasi negatif. ( negatively
correlated ) beraku pada dua aset atau
investasi yang memberikan tingkat pengembalian saling bertolak belakang satu
sama lain.
Untuk mengurangi tingkat risiko sebuah portofolio dapat dilakukan dengan
mengkombinasikan atau menambahkan kedalam portofolio tersebut aset – aset yang
memiliki korelasi negatif satu sama lain atau aset aset yang memiliki tingkat
korelasi positif yang lemah .Tehnik ini
di sebut diversifikasi
KOSEP DASAR
DARI BATASAN EFISIEN ( EFFICIENT
FRONTIER ) :adalah mengkombinasikan komposisi
aset – aset pembentuk sebuah portofolio sehingga total pengembalian ( return )
portofolio bisa di capai secara maksimun dengan batas toleransi risiko yang
seimbang .
Contoh komposisi aset dalam portofolio
dihubungkan dengan tingkat toleransi risiko yang ditanggung adalah sebagai
berikut :
Toleransi
rendah terhadap risiko (low risk tolerance)
-
20% pokok
tetap dan/ aset setara kas
-
45%
instrument berpendapatan tetap kualitas tinggi (obligasi pemerintah jangka
pendek atau menengah)
-
5% investasi
berpendapatan tetap internasional
-
25% saham
kategori bertumbuh dan pendapatan
-
5% saham
internasional kategori bertumbuh dan pendapatan
Toleransi
menengah terhadap risiko ( moderate risk tolerance )
-
15% pokok
tetap dan/ aset setara kas
-
35% instrument
berpendapatan tetap kwalitas tinggi dan instrument investasi dengan hasil
tinggi
-
5% aset
internasional berpendapatan tetap
-
15% saham
kategori bertumbuh dan berpendapatan ( income stoks )
-
15% saham
bertumbuh
-
10% saham
internasional
Toleransi
tinggi terhadap risiko( high risk tolerance )
-
10% intrumen
berpendapatan tetap dan/atau aset setara kas
-
20%
instrument berpendapatn tetap
-
10%
instrument internasional berpendapatan tetap
-
10%
instrument kategori bertumbuh dan pertumbuhan pendapatan ( income geowth)
-
20% saham
bertumbuh
-
10% saham
dengan pertumbuhan agresif
-
15% saham
internasional
-
5% aset
berwujud tangible assets)
7. METODE
ANALISA INVESTASI
Dengan menganalisa sebuah investasi dapat
dilakukan dengan berbagai pendekatan .secara garis besar pendekatan –pendekatan
itu dapat disimpulkan dalam dua kelompok besar
yaitu ; pendekatan analisa teknis dan analisa fundamenatal
ANALISA
TEKNIS
Mereka yang menjadi pengikut analisa teknis
meyakini bahwa harga – harga yang di bentuk dipasar adalah merupakan cerminan
dari gejolak emosi dan psikologis dari pemain pasar modal itu sendiri . gejolak
gejolak psikologis ini ( bullish atau bearish).tercermin dalam grafik –
grafik harga saham .
Dengan kata lain , menganalisa pergerkan
harga –harga (saham ,misalnya ) melalui
grafik yang di perkirakan bisa membaca arah harga – harga tersebut diwaktu – waktu mendatang dan sekaligus
menangkap posisi psikologis para pemain pasar modal ( bullish atau bearish )
Mereka yang menggunakan analisa menggunakan
analisa teknis akan menggabungkan sejumlah factor
biaya pendukung lainya yang bisa di temui di pasar misalnya;
·
harga
pergerakan index atau benchmark,
·
volume transaksi
·
Indicator-indikator
yang berdasarkan perhitungan statistic
·
Pola –pola
pergerkan harga yang terbentuk di masa lalu
Setiap orang bisa menggunakan teknik analisa
yang sama atau menggunakan data historis saham yang sama tetapi yang membedakan
hasil keputusan investasi adalah peranan psikologis dan interpretasi individu
atas data atau grafik yang sedang di analisa
ANALISA
FUNDAMENTAL
Analisa ini menyertakan evaluasi yang mendalam
terhadap misalnya
-
Tingkat suku
bunga
-
Produksi
nasional bruto
-
Inflasi
-
Tingkat
pengangguran
-
Cadangan
barang di pasar
-
Kondisi
ekonomi makro dan mikro
-
Laporan
keuangan perusahaan
-
Sejumlah
aspek lainya di luar analisa teknis
Dari sudut pandang yang lebih kecil analisa
fundamental akan mengevalusai posisi laporan keuangan dari perusahaan
bersangkutan untuk memprediksikan pergerakan harga saham di kemudiian hari atau
prospek keuntungan yang bakal di raih oleh perusahaan emiten
Dua pendekatan dari analisa fundamental
adalah analisa atas - bawah ( top-down inveting ) dan analisa
bawah atas ( buttom –up investing )
I.
ANALISA FUNDAMENTAL ATAS – BAWAH ( TOP-DOWN )
Dalam metode atas bawah , investor berusaha
untuk mengidentifikasi kecenderungan (
trend) ekonomi secara menyeluruh dan kemudian memilih jenis industry dan perusahaan – perusahaan yang
diperkirakan bakal mengikuti trend umum tersebut.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas, mereka
yang menganut sistim analisa atas bawah akan menggunakan tiga hal sebagai dasar
analisanya;
1.
Kondisi
ekonomi, yang terbagi lagi atas tiga area besar
a.
Siklus
usaha, melihat siklus posisi usaha dari perusahaan bersangkutan, apakah
perusahaan tersebut sedang dalam tahap ekspansi atau perbaikan (recovery),
posisi puncak, kontraksi atau resesi atau sedang terpuruk.
b.
Kebijakan
keuangan pemerintah, bagaimana tindakan pemerintah dalam pengambilan
kebijakan-kebijakan moneter untuk menanggulangi keadaan resesi Negara,
memerangi laju tingkat inflasi, dll.
c.
Kebijakan
fiskal, mengacu pada kondisi apakah pemerintah akan meningkatkan atau
mengurangi tingkat pengeluaran Negara, apakah akan terjadi peningkatan atau
pengurangan anggaran, dan apakah terjadi perubahan dalam tingkat pengangguran.
2.
Kondisi
industri, untuk menentukan jenis industry mana yang sedang berjalan bagus
sepanjang kondisi ekonomi yang ada
sekarang .
Kondisi
perusahaan , dimana tiga hal yang harus menjadi perhatian utama adalah :
a.
Posisi
komtetitif perusahaan
b.
Prospek
untuk pertumbuhan dan kestabilan management maupun tingkat penghasilan laba
bersih
c. Posisi keuangan perusahaan sekarang dengan
mengevaluasi laporan – laporan keuangan dan melakukan perbangan intern maupun
perbandingan dengan perusahaan pesaing.
II.
ANALISA FUNDAMENTAL BAWAH – ATAS ( BUTTOM-UP
INVESTING )
Analisa bawah – atas ( buttom –up investing )
lebih kearah pendekatan mikro, investor yang menggunakan metode ini akan
memburu saham – saham perusahaan – perusahaan yang sedang mengalami tekanan
jual di pasar modal dan terutama perusahaan –perusahaan yang harga sahamnya
jauh di bawah harga wajar.
8. NILAI
INSTRINSIC ( INSTRINSIC VELUE )
Nilai instrinsik adalah perkiraan nilai dasar
dari satu sekuritas ( instrumen investasi )
Sebuah saham dikatan penilaian rendah (
undervalue ) apabila nilai intrinsic dari saham tersebut lebih besar dari nilai
atau harga pasar saham itu saat ini . dalam pandangan investor yang menggunakan
analisa fundamental , kondisi saham seperti ini memberikan prospek yang bagus
untuk di beli dan di tahan sampai harga pasar mendekati harga wajar ataunharga
dasar saham tersebut ( intrinsic value ).
Sebaliknya apabila sebuah saham memilki
ninlai intrinsik yang lebih kecil dari harga yang di berikan pasar kepada saham
tersebut , kondisi demikian disebut sebagi kondisi penilaian berlebih (
overvalue ) dan saham kondisi seperti ini cenderung akan mengalami tekanan jual
dalam waktu dekat dimana pasar akan berusaha membawa harga pasar yang ada
sekarang untuk mendekati harga wajar dari saham itu.
***